MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan penurunan bertahap harga beras premium mulai terlihat setelah negosiasi biaya distribusi dilakukan dengan sejumlah agen pemasok. Langkah ini diambil setelah pemerintah menemukan bahwa kenaikan harga beberapa bulan terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya biaya logistik daripada masalah pasokan.
Pejabat Fungsional Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, menjelaskan bahwa harga beras premium sebelumnya sempat mencapai Rp19 ribu per kilogram.
“Kutim bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ketika biaya pengapalan dan angkut naik, harga di tingkat konsumen otomatis ikut terdorong,” ujarnya.
Ia menyebut tidak ada kekurangan stok dan seluruh suplai dari Surabaya, Sulawesi, dan Samarinda tetap berjalan.
Dalam rapat bersama distributor, pemerintah meminta penyesuaian margin keuntungan dan efisiensi komponen biaya angkutan. Setelah beberapa penyesuaian, harga beras premium berhasil ditekan ke kisaran Rp16.800–Rp17 ribu.
“Efeknya langsung terlihat karena struktur harga kita memang sangat dipengaruhi ongkos logistik,” kata Dony.
Disperindag juga meningkatkan pengawasan terhadap pedagang di pasar untuk memastikan harga tidak dinaikkan di luar batas wajar. Pemerintah meminta distributor mempercepat pengiriman ketika stok mulai berkurang agar tidak menimbulkan kekhawatiran publik.
“Stok aman adalah kunci menjaga harga stabil,” tegas Dony.
Karena Kutim tidak memiliki produksi beras dalam skala besar, strategi Pemkab sepenuhnya diarahkan pada pengendalian logistik dan kerja sama dengan pemasok luar daerah.
“Fokus kami adalah menekan biaya angkut. Itu faktor paling menentukan bagi harga beras di Kutim,” pungkasnya.
(ADV/Diskominfo Kutim/Zi).













