MEDIAKATA,COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperluas implementasi pendidikan inklusif dengan menyiapkan 600 guru khusus di seluruh sekolah reguler. Langkah ini dilakukan untuk memastikan anak berkebutuhan khusus dapat mengikuti pembelajaran tanpa harus dipisahkan dari siswa lainnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, menyampaikan bahwa sejauh ini 121 guru telah lulus pelatihan inklusi. Sebanyak 300 guru lainnya masih menjalani pendidikan formal melalui program kuliah inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
“Sisa target akan dipenuhi pada 2026 melalui kerja sama tambahan dengan beberapa universitas. Dengan total 600 guru inklusi, kami ingin layanan tersedia merata di seluruh kecamatan,” ujarnya.
Kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi pendidikan Kutim yang menekankan akses pendidikan setara. Mulyono mengatakan pendidikan inklusi dipilih karena jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kutim hanya mampu melayani sebagian kecil peserta didik ABK. Dengan memperluas layanan ke sekolah reguler, akses menjadi lebih dekat dan terjangkau.
Dalam implementasinya, pemerintah menyiapkan modul pelatihan lanjutan untuk guru, mulai dari asesmen kebutuhan belajar siswa, penanganan perilaku, hingga penyesuaian materi pelajaran. Sekolah juga diarahkan menyusun sistem pembelajaran diferensiasi untuk mengakomodasi berbagai kondisi.
Selain penyiapan guru, pemerintah membentuk tim pendamping kecamatan yang terdiri dari psikolog mitra, pengawas sekolah, dan koordinator pendidikan inklusif. Tim ini bertugas memberikan evaluasi berkala dan memastikan setiap sekolah memiliki rencana layanan inklusi.
“Kami ingin standar layanan inklusi seragam, baik di sekolah kota maupun pedalaman,” kata Mulyono.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan sekolah menerima keberagaman. “Inklusi bukan sekadar penempatan siswa, tetapi perubahan cara mengajar dan berpikir,” ujarnya.
(ADV/Diskominfo Kutim/Zi).













