Scroll untuk baca artikel
Opini

Voyeurisme, Kelainan Seksual Ancaman Generasi Muda

89
×

Voyeurisme, Kelainan Seksual Ancaman Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

Ditulis: Rizka Yusia Rahma Dilla.(*)

TEMAN-TEMAN, masih ingatkah kalian dengan kasus teror sperma yang viral pada bulan September lalu? Seorang lelaki yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di daerah Semarang ini harus berurusan dengan hukum karena ketahuan mengintip rekan sejawatnya mandi.

Saat ia sedang mengintip, ia juga melakukan onani yang kemudian melanjutkan aksinya dengan mengoleskan spermanya ke makanan korban.

Hampir sama seperti kasus sebelumnya, terjadi lagi kasus yang baru pada bulan Desember di mana satpam Universitas Negeri Makassar (UNM) tertangkap basah sering melakukan aksi merekam mahasiswi yang mengikuti pertukaran pelajar mahasiswa (PPM) di daerah Makassar, Sulawesi Selatan. Satpam tersebut merekam mahasiswi yang sedang mandi di wisma dan Hotel Lamacca milik Universitas Negeri Makassar.

Seram enggak sih, kalau kita diintip sama orang asing? Nah, dalam psikologi, perilaku seperti ini bisa dijelaskan secara ilmiah, lho! Perilaku suka mengintip orang lain yang sedang telanjang ini dinamakan dengan Gangguan Voyeurisme.

Memangnya, apa sih gangguan voyeurisme itu?

Voyeurisme merupakan salah satu jenis gangguan parafilik. Gangguan parafilik memiliki pola ketertarikan seksual yang tidak biasa, seperti voyeurisme, fetisisme, transvestisme, ekshibisionisme, masokisme seksual, froteurisme, sadisme seksual, transvestik, dan pedofilia. Teman-teman, bagi orang awam seperti kita, biasanya gangguan parafilik ini kita sebut sebagai kelainan seksual.

Nah, orang yang mengidap gangguan voyeurisme ini akan terangsang secara seksual saat melihat orang lain telanjang atau melakukan hubungan seksual secara diam – diam. Tak hanya mengintip, pengidap voyeurisme biasanya akan membayangkan fantasi seksual dan kemudian melakukan masturbasi ketika sedang mengintip orang lain telanjang.

Seram, kan? Faktanya, menurut literatur gangguan voyeurisme ini lebih banyak dialami oleh jenis kelamin laki – laki dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan. Selain itu, seseorang yang memiliki gangguan voyeurisme ini dianggap memiliki keterampilan sosial dan pengetahuan seksual yang terbatas. Mereka juga dianggap memiliki masalah dengan disfungsi seksual dan keintiman.

Jadi, karena ada masalah ini lah mereka akhirnya lebih suka mengintip orang asing. Jika melihat orang lain telanjang termasuk dalam gangguan voyeurisme, apakah berarti saat kita suka melihat pasangan kita telanjang, kita termasuk dalam orang yang mengidap voyeurisme teman-teman? Jawabannya adalah tidak.

Tenang saja, melihat pasangan yang sedang telanjang tidak termasuk dalam gangguan voyeurisme kok. Hal ini karena pasangan kita tahu bahwa dirinya sedang dilihat dan diperhatikan.

Mereka yang memiliki gangguan voyeurisme akan melakukan kegiatan melihat korbannya secara diam-diam. Tapi nih ya, meskipun berisiko untuk tertangkap dan berurusan dengan hukum, mereka tetap menyukai kegiatan mengintip itu lho. Justru hal seperti inilah yang menambah ketertarikan mereka karena mereka akan merasakan adrenalin yang mengalir di samping mencapai kepuasan seksual.

Nah sekarang, bagaimana kriteria diagnosis orang dengan gangguan voyeurisme ini? Dalam psikologi, kriteria diagnosa orang dengan gangguan jiwa ada dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM). Jadi, menurut DSM-V ini, orang akan didiagnosis memiliki gangguan voyeurisme ketika mereka memiliki kriteria

1. Memiliki gairah seksual untuk terus melakukan aksi mengintip orang lain telanjang atau berhubungan seksual. Gairah seksual ini harus terus ada dengan minimal waktu 6 bulan.

2. Memiliki dorongan atau fantasi seksual yang membuat mereka menderita secara klinis, sosial, pekerjaan, atau hal lainnya.

3. Berusia minimal delapan belas tahun.

Nah, orang yang bisa menegakkan diagnosis seseorang menderita gangguan voyeurisme hanyalah psikolog ataupun psikiater. Jadi, kita harus membawa mereka dulu ke profesional untuk tahu apakah benar mereka mengidap gangguan voyeurisme atau tidak.

Dan juga, sebelum menentukan seseorang itu mengidap voyeurisme atau tidak, para profesional akan melakukan beberapa pemeriksaan dahulu. Pemeriksaan ini meliputi wawancara dan juga observasi.

Nantinya para profesional akan mencari informasi lebih dalam tentang intensitas gairah seksual yang muncul pada orang tersebut. Baru deh profesional akan mendiagnosis apakah itu termasuk gangguan voyeurisme atau bukan.

Memangnya, kenapa ya ada orang yang mengidap gangguan voyeurisme? Apa penyebabnya?

Jadi teman-teman, gangguan voyeurisme ini bisa disebabkan oleh kecemasan ketika berhubungan seksual langsung dengan orang lain. Kecemasan inilah yang akhirnya membuat orang tersebut lebih memilih melakukan aktivitas seksual yang tidak melibatkan orang dewasa lain secara langsung, misalkan kontak seksual dengan benda atau mengintip orang lain yang sedang telanjang.

Orang yang memiliki latar belakang keluarga kurang baik juga bisa menjadi faktor penyebab terjadinya gangguan voyeurisme nih. Dalam buku Abnormal Psychology and Life karya Timothy J. Trull dan Christopher A. Kearney, dikatakan bahwa orang yang mengidap gangguan parafilik (termasuk salah satunya voyeurisme) sering menggambarkan kehidupan rumah mereka sebagai kekerasan emosional, tidak stabil, atau kekerasan fisik.(*)

Ket: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, pmerupakan tanggung jawab penulis (pemasang).

Tulisan dari RIZKA YUSIA RAHMA DILLA tidak mewakili pandangan dari redaksi Mediakata.

Referensi

1. Beidel, D. C., Bulik, C. M., & Stanley, M. A. (2012). Abnormal Psychology (2nd ed.). New York: Pearson Education, Inc.

2. Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. (2014). Psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit Erlangga.

3. Maslim, R. (2013). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya.

4. Dewi, D. S. (2020). Mengenal Voyeurisme, Kepuasan Seks dengan Mengintip Orang. Retrieved from https://tirto.id/mengenal-voyeurisme-kepuasan-seks-dengan-mengintip-orang-ewhw

5. Kearney, C. A., & Trull, T. J. (2018). Abnormal Psychology and Life: A Dimensional Approach (3rd ed.). Boston: Cengage Learning.

6. Artasari, D. N. (2014). Voyeurisme. Retrieved from https://www.kompasiana.com/novidwi28/54f93403a333112b058b483b/voyeurisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *