Disdikbud Kutim Gerakan Reformasi Pendidikan Tiga Pilar

Tesk Foto : Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur/Ist.

MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong pembenahan sistem pendidikan melalui pendekatan tiga pilar: perbaikan infrastruktur, akurasi data, dan penguatan kebudayaan. Strategi ini disebut sebagai model reformasi pendidikan daerah yang lebih adaptif sekaligus berorientasi jangka panjang.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak lagi dipahami sekadar penambahan gedung atau fasilitas fisik. Ia menilai kualitas layanan jauh lebih ditentukan oleh ketepatan perencanaan dan relevansi kebijakan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin pendidikan di Kutim tumbuh dari data yang benar, kebutuhan lapangan yang nyata, dan budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam pilar infrastruktur, Pemkab Kutim terus memperluas akses melalui pembangunan sekolah filial di wilayah terpencil. Keberadaan sekolah filial ini menjadi solusi bagi anak-anak di kawasan jauh yang sebelumnya harus menempuh perjalanan panjang untuk bersekolah.

“Kami juga memperkuat fasilitas pendukung seperti ruang kelas baru, sarana sanitasi, hingga penyediaan rumah dinas guru di daerah sulit,” beber dia.

Di sisi lain, Kutim mulai dikenal sebagai daerah pionir dalam verifikasi dan validasi data pendidikan secara mandiri. Disdikbud membentuk tim berbasis kolaborasi antara RT, PKK, Disdukcapil, dan puskesmas untuk memeriksa ulang status pendidikan setiap anak. Ribuan data yang sebelumnya tidak akurat telah dibenahi dan kini digunakan sebagai rujukan pembaruan Dapodik.

Langkah ini, kata Mulyono, membuat perencanaan program lebih tepat sasaran, termasuk dalam penempatan guru dan alokasi anggaran.

Pilar ketiga adalah penguatan kebudayaan. Melalui festival literasi, pentas seni pelajar, dan program pembinaan karakter berbasis kearifan lokal, sekolah didorong menjadi ruang pembelajaran sekaligus ruang apresiasi seni.

Lebih jauh, Ia menilai pembelajaran harus membentuk kepribadian dan akar budaya siswa, bukan hanya mengejar nilai akademik.

“Kami tidak ingin pendidikan berhenti pada angka kelulusan. Kami ingin membangun generasi Kutim yang berkarakter kuat, cerdas secara emosional, dan bangga dengan budayanya,” tutup Mulyono.

(ADV/Diskominfo Kutim/Zi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *