Siap Jadi Komoditas Unggulan, Disbun Fokuskan Pembinaan Petani Sawit Dan Program Perkebunan Berbasis Korporasi

Dok. Ilustrasi Kebun Kelapa Sawit sebagai Komoditas Unggulan Kaltim. (Ist)

MEDIAKATA.COM, SAMARINDA – Seiring dengan hadirnya IKN Nusantara di Kalimantan Timur (Kaltim), Dinas Perkebunan (Disbun) targetkan sektor perkebunan akan secara intensif dilakukan pembinaan petani sawit, sebagai salah satu sektor perkebunan unggulan di Benua Etam. Hal tersebut juga sebagai penegasan dalam menjaga dampak ekonomi tinggi yang merupakan efek dari IKN.

Dalam upaya mengantisipasi dampak ekonomi tinggi, pentingnya menjaga sektor perkebunan menjadi kunci strategis bagi pengembangan suatu daerah.

Dengan menjaga produktivitas dan kualitas hasil perkebunan sebagai aspek krusial, pengembangan, pelatihan petani, serta penerapan teknologi modern menjadi upaya utama, guna memastikan sektor perkebunan mampu bersaing di pasar global.

Kepala Disbun Kaltim Ahmad Muzakkir menjelaskan, perkebunan sebagai pilar utama dalam penyediaan sumber daya pangan dan bahan baku industri, memiliki dampaknya tersendiri.

Menurutnya, dengan memainkan peran vital dalam menjaga ketahanan ekonomi suatu wilayah, dampak tersebut akan mampu dihadapi. Oleh karenanya, melakukan pembinaan terhadap petani di sekitar IKN, perlu dilakukan. Terlebih pemetaan program-program yang dijalankan mesti berfokus pada pengembangan.

“Tahun 2023 kita sudah lakukan, kita tidak masuk ke dalam, tetapi mempersiapkan di sekitar IKN, pengembangan, pelatihan agar disparitas tidak terjadi,” ungkapnya Muzakkir, Senin (15/1/2024).

Berdasarkan ungkapannya, guna mengantisipasi peningkatan permintaan berbagai komoditas pangan setelah IKN dipindahkan, Disbun Kaltim tengah merancang program Perkebunan Berbasis Korporasi untuk Kesejahteraan para Petani Benua Etam. Hal tersebut dilakukan dengan harapan, dapat menjaga produktivitas tanaman perkebunan di wilayah subur akan hutan ini.

“Ini diupayakan agar produktivitas tanaman perkebunan terus terjaga, salah satunya dengan mengembangkan kawasan perkebunan berbasis korporasi,” lanjutnya.

Menurutnya, dengan terbentuknya struktur kelembagaan, pembinaan manajemen, SDM, tata cara produksi, bantuan bibit, pupuk, pengembangan komoditi, dan perluasan lahan perkebunan rakyat dapat memperkuat status petani. Sekaligus menjadi fokusnya dalam program pengembangan kawasan perkebunan berbasis korporasi hingga tahun 2026.

Baca Juga :  Upaya Sediakan Bahan Pangan, DP3 Balikpapan Galakkan Gerakan Pangan Murah Di Tiga Lokasi

“Nantinya akan kita lakukan pembinaan manajemen, SDM, tata cara produksi, bantuan bibit, pupuk, pengembangan komoditi dan kegiatan perluasan lahan perkebunan rakyat,” imbuhnya.

Ia juga menuturkan, pihaknya akan tetap menerapkan Area Nilai Konservasi Tinggi (ANKT) pada kawasan perkebunan alam, sebagai upaya menjaga dari aspek lingkungan.

Berkaitan dengan program ketahanan pangan dan pengalihan fungsi lahan sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser, ia menegaskan pentingnya sebuah kolaborasi.

Menurutnya, meskipun tanaman kelapa sawit mendominasi sektor perkebunan dengan 89,59 persen dari total 1,57 juta hektare pada tahun 2023, ia meyakini bahwa masih terdapat lahan yang dapat dioptimalkan untuk komoditas lain, termasuk tanaman pangan dan peternakan. Sehingga berpotensi menjadikan opsi komoditas unggulan lainnya.

“Saya pikir tidak ada masalah karena 3,4 juta hektare di Kaltim untuk perkebunan masih terpakai 1,57 juta hektare yang dimanfaatkan sektor ini. Masih ada setengah lebih yang bisa dioptimalkan di komoditas tanam pangan lain dan sebagainya, peternakan bisa kolaborasi dengan perkebunan,” urainya Kepala Disbun Kaltim tersebut.

Ia pun mengungkapkan, dengan luas tanaman perkebunan mencapai 1,4 juta hektare, yang terdiri dari berbagai komoditi seperti lada, aren genjah, kelapa dalam, kakao, pala, karet, dan kopi. Meskipun didominasi oleh kelapa sawit, yakni seluas 1,41 juta haktare atau 89,59 persen, dengan rincian luas perkebunan inti 972 ribu haktare dan kebun plasma seluas 373 ribu haktare.

Berdasarkan luas perkebunan kelapa sawit tersebut, ia menuturkan, hal itulah yang kemudian turut andil dalam perputaran ekonomi hasil penjualan buah sawit. Baik berupa tandan buah segar (TBS), yakni ekspor produksi TBS mencapai 19,2 juta ton, maupun produksi crude palm oil (CPO) sebesar 4,3 juta ton. Oleh sebab itu, pihaknya tengah berupaya agar dapat memasok IKN dengan komoditas lain seperti karet, kakao, dan lada.

Baca Juga :  Ansor Banser Bersholawat Bakal Digelar Meriah di Palaran

“Selain CPO, Hasil perkebunan memasok ke IKN, seingat saya karet, kakao, lada juga ada. Lada kita juga yang dikembangkan di Sulsel itu, kan memang harus kita kembalikan kejayaannya, kita tahu dulu tanaman lada kan ada di Batuah, Kukar,” pungkasnya.

[RUL/TSN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *