Scroll untuk baca artikel
DaerahHukum & PeristiwaSamarinda

Waspada, Kasus Malaria Di Kaltim Meningkat

191
×

Waspada, Kasus Malaria Di Kaltim Meningkat

Sebarkan artikel ini

MEDIAKATA.COM, Penyakit malaria di Kaltim masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Bagaimana tidak, kasus malaria di Kaltim mengalami peningkatan.

Berdasarkan infografis malaria di Kaltim, di temukan 61 kasus positif malaria. Diantaranya yaitu, di Penajam Paser Utara (PPU) 2 kasus, Kutai Timur (Kutim) 38 kasus, Berau 2 kasus, Kutai Barat 3 kasus, dan Balikpapan 6 kasus.


Berdasarkan data infografis malaria di Kaltim, Annual Parasite Incidence (API) terhadap angka kesakitan malaria tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten PPU.


Sebagai informasi, API merupakan indikator yang digunakan dalam menentukan tren morbiditas malaria dan menentukan endemik suatu daerah. Biasanya dalam peta wilayah sebaran kasus akan ditandai warna merah untuk endemis tinggi, kuning artinya sedang, dan hijau berarti rendah.

“Penajam Paser Utara masih jadi yang tertinggi untuk angka kesakitan malaria (API) yaitu di angka 6,44 poin” ucap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, beberapa waktu lalu.

Jaya menjelaskan, malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Gigitan nyamuk tersebut mengakibatkan parasit masuk dan mengendap di organ hati lalu menginfeksi sel darah merah.

Ia membeberkan, nyamuk jenis Anopheles ini dapat dijumpai di hutan. Ia juga menyampaikan jika nyamuk Anopheles ini berbeda dengan nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD, karena nyamuk Aedes Aegypti dapat ditemukan di wilayah perkotaan.

Biasanya, penderita kasus malaria mayoritas merupakan pada pekerja perusahaan perkebunan dan pengrajin kayu.

Salah satu faktor penyebab utama malaria adalah kondisi cuaca. Tentunya, kondisi cuaca dapat mengakibatkan tubuh manusia menjadi lebih rentan terkena malaria, sehingga masyarakat harus lebih waspada.

“Harapannya masyarakat harus lebih waspada terhadap peningkatan penyakit malaria” pungkasnya. (Adv/Bey/Aji/Diskominfo Kaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *