MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Upaya membangun sentra industri komoditas lokal di Kutai Timur (Kutim) semakin mendapat arah yang jelas. Pemerintah daerah menempatkan pisang, kakao, dan karet sebagai komoditas prioritas yang akan dikerjakan secara bertahap melalui pendekatan hilirisasi. Program ini merupakan bagian dari strategi 50 prioritas pembangunan yang tengah dikejar pemerintahan daerah.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, mengatakan bahwa penguatan sentra industri dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan petani pada pola perdagangan tradisional.
“Petani kita sudah lama jual bahan mentah. Nilai tambahnya keluar ke tempat lain. Kita ingin perputaran itu terjadi di Kutim,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah ingin membangun ekosistem industri yang tidak hanya menambah pendapatan petani, tetapi juga memperluas lapangan kerja.
Di sektor pisang, Kaubun dan Kaliorang menjadi wilayah yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Industri olahan seperti susu pisang, keripik, Fruitibox, dan Kalbana menjadi contoh keberhasilan pelaku IKM dalam menangkap peluang pasar.
“Kita melihat ada semangat inovasi yang kuat dari IKM. Itu alasan kami memilih pisang sebagai komoditas unggulan,” kata Nora.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak semata-mata karena bahan baku melimpah, tetapi juga karena konsistensi pelaku usaha menjaga standar.
Sementara itu, kakao dan karet masih berada pada tahap transisi dari komoditas mentah ke pengolahan awal. Pemerintah mendorong pelaku usaha untuk memperkuat kapasitas produksi dan kualitas bahan agar industri dapat mengambil peran yang lebih besar.
“Kami sedang memetakan kebutuhan mesin, pelatihan, dan dukungan lainnya. Ini proses bertahap,” jelasnya.
Hilirisasi komoditas lokal, menurut Nora, memerlukan dukungan lintas sektor. Ia mencontohkan bahwa peralatan produksi yang layak, akses pembiayaan, hingga metode pemasaran modern masih menjadi tantangan yang harus dikerjakan bersama.
“Yang penting adalah memastikan sistem pembinaan berjalan. Kita tidak bisa berharap industri tumbuh tanpa fondasi yang kuat,” katanya.
Ia menilai bahwa pengembangan sentra industri bukan hanya kebijakan teknis, tetapi juga upaya memperluas ruang ekonomi masyarakat.
“Kita ingin struktur ekonomi yang lebih inklusif. Petani, pelaku IKM, dan pekerja lokal harus masuk dalam rantai yang sama,” ujarnya.
Nora menutup penjelasan dengan menyebut bahwa hilirisasi komoditas lokal akan menjadi agenda jangka panjang. “Target kita sederhana, bahwa nilai tambah tidak boleh keluar dari Kutai Timur,” pungkasnya.
(ADV/Diskominfo Kutim/Zi).













