Strategi DP3A Kutim Pertahankan Layanan di Tengah Pengetatan Fiskal

MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Ketika pemerintah pusat memperketat pengeluaran negara, instansi yang bekerja dekat dengan kelompok rentan sering kali menjadi pihak yang harus beradaptasi paling cepat. Begitu pula yang dialami Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kutai Timur, yang saat ini tengah berhadapan dengan situasi sulit.

Kepala Dinas P3A Kutim, Idam Cholid, menggambarkan situasi ini sebagai masa yang penuh pertimbangan. Menurutnya, setiap keputusan harus diambil dengan amat hati-hati.

“Ketika ada efisiensi nasional, kami tidak punya pilihan selain berbenah. Tapi proses memilah itu sangat berat, karena kami bekerja dengan isu yang menyangkut keselamatan dan kesejahteraan keluarga,” ucapnya.

Efisiensi anggaran menyebabkan banyak program yang bersifat pendukung harus dikurangi. Perjalanan dinas dipotong, pengadaan alat tulis dipangkas, kegiatan tatap muka dibatasi, dan berbagai pertemuan besar dialihkan menjadi agenda kecil yang lebih sederhana. Meski begitu, bagian yang menyentuh perempuan dan anak tetap dijaga.

“Ada banyak hal yang bisa kami tunda, tapi layanan inti tidak termasuk di dalamnya. Pendampingan korban, edukasi pencegahan kekerasan, dan bantuan rujukan tetap harus berjalan,” kata Idam.

Ia menekankan bahwa beban emosional dari tugas ini justru meningkat. Ketika ekonomi melemah, kasus sosial sering bertambah, sementara ruang fiskal justru menyempit.

“Kami menemukan bahwa dalam situasi seperti ini, kebutuhan masyarakat meningkat. Itulah sebabnya kami berusaha memastikan tim kami tetap turun ke lapangan,” tambahnya.

Untuk menjaga layanan tetap hidup, P3A Kutim kini lebih mengandalkan jaringan kolaborasi. Mereka bekerja lebih dekat dengan pihak desa, organisasi perempuan, hingga lembaga pendamping korban. Strategi ini dilakukan untuk memastikan bahwa pelayanan tidak berhenti hanya karena anggaran tidak lagi selonggar sebelumnya.

Baca Juga :  Bupati Kutim Resmi Membuka Festival Magic Land 2025

Idam berharap bahwa pengetatan fiskal ini tidak membuat isu perempuan dan anak kehilangan panggung.

“Justru di masa sulit, mereka yang paling rentan harus dilihat lebih dulu. Itu prinsip yang kami pegang,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Kutim/Zi).

Editor: Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *