Delapan Pelaku Budaya Kutim Diberi Anugerah 2025, Pemkab Soroti Peran Mereka Rawat Memori Kolektif

Teks Foto : Istimewah.

MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Di tengah cepatnya perubahan sosial dan tekanan ekonomi yang kerap membuat kerja-kerja kebudayaan terpinggirkan, delapan pelaku budaya Kutai Timur menerima Anugerah Kebudayaan Kutim 2025, sebuah bentuk pengakuan terhadap kontribusi mereka menjaga memori kolektif masyarakat. Penghargaan diserahkan pada pembukaan Festival Magic Land 2025 pada Jumat, (14/11/2025) malam.

Anugerah ini tidak hanya menyoroti karya seni, tetapi juga kerja senyap para penjaga tradisi yang sering bekerja tanpa panggung. Proses seleksi dilakukan secara ketat, dengan menilai keterlibatan sosial, peran edukatif, dan kontribusi para pelaku budaya terhadap komunitas.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa bertumpu pada pemerintah saja.

“Para pelaku budaya inilah yang menjaga nilai, bahasa, dan ingatan kolektif kita. Penghargaan ini menguatkan peran mereka dalam menjaga kohesi sosial,” katanya.

Daftar penerima anugerah mencakup H. Syarwali Ahmad, Agung Suroso, Ises Rahayu, Nisma Mawardah, Maryam Aria Arifin, Mohammad Asmin, Zulfikar Muhammad Nugroho, dan Afliniziar Julianur Fajar. Masing-masing dengan latar belakang seni rupa, wastra, tari, musik, bahasa, hingga generasi muda pelestari budaya.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan bahwa kerja pelaku budaya sering terabaikan padahal dampaknya meluas, terutama bagi generasi muda.

“Mereka bukan hanya menciptakan karya, mereka membentuk cara kita memandang diri sendiri sebagai masyarakat Kutai Timur,” ucapnya.

Festival Magic Land yang menjadi panggung penyerahan penghargaan tersebut menghadirkan berbagai komunitas, dari pesisir hingga pedalaman. Agenda ini dirancang sebagai ruang aman bagi ekspresi budaya, sekaligus bagian dari strategi memperkuat inklusi sosial.

Padliyansyah menambahkan bahwa pemerintah akan mendorong lebih banyak ruang partisipasi bagi komunitas kecil agar budaya tidak hanya hidup di pusat kota.

Baca Juga :  Yenny Eviliana Sapah Warga Desa Lolo Dan Sosialisasi SOSPERDA

“Kita ingin budaya menjadi jembatan antarwarga, bukan sekadar tontonan,” ujarnya.

(ADV/Diskominfo Kutim/Ys)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *