MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bergerak cepat memulihkan populasi sapi yang anjlok dari 19 ribu menjadi 15 ribu ekor pasca-PMK. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) kini menjalankan program Inseminasi Buatan (IB) dan pengadaan sapi Bali sebagai langkah pemulihan populasi.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyebut bahwa IB menjadi tumpuan utama dengan target 1.000 pedet tahun 2025.
“Kami kerahkan inseminator dan dokter hewan untuk turun langsung. Semua proses dipantau, termasuk kondisi indukan,” ujarnya kepada media.
Dari aspek suplai konsumsi, Kutim hanya mampu memotong sekitar 1.500 ekor per tahun, jauh dari kebutuhan 5.000 ekor. Kondisi ini membuat pemerintah masih harus mendatangkan sapi dari Jawa dan Sulawesi. “Pasokan luar tetap diperlukan sampai populasi lokal pulih,” kata Dyah.
Pengadaan sapi APBD tahun depan akan memprioritaskan sapi Bali yang lebih cocok untuk kondisi Kutim. Pemerintah menilai sapi berukuran besar tidak efisien karena perawatan lebih rumit dan adaptasi rendah. “Kami ingin pemulihan yang realistis dan aman bagi peternak,” jelasnya.
Dyah memastikan bahwa seluruh program pemulihan dipantau secara ketat agar hasil reproduksi optimal. “Kami ingin prosesnya tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan populasi yang signifikan,” tuturnya.
Program pemulihan ini diharapkan membuat populasi sapi kembali stabil dalam beberapa tahun ke depan. “Kami bekerja keras agar populasi kembali mendekati angka sebelum PMK,” tegas Dyah.
(ADV/Diskominfo Kutim/Zi).













