Pemerintah Kutim Benahi Arus Pasokan Cabai Usai Harga Eksternal Merosot

MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai membenahi pola distribusi cabai setelah harga komoditas luar daerah terjun bebas dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah menilai penurunan harga yang terlalu cepat dapat mengganggu ekosistem perdagangan, terutama bagi pedagang kecil yang tidak memiliki cadangan modal kuat.

Pejabat Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, menjelaskan bahwa kondisi ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan dipicu distribusi cabai dari Sulawesi dan Jawa yang meningkat drastis.

“Dalam dua minggu terakhir kami mencatat pasokan masuk naik signifikan. Pedagang di pusat distribusi bercerita bahwa barang datang lebih banyak daripada biasanya, sehingga harga jatuh sebelum sempat stabil,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang hanya bisa diatasi melalui intervensi pola arus barang.

Dalam pandangan Dony, dampak paling cepat terasa adalah risiko pedagang menghentikan pembelian barang karena margin keuntungan tergerus.

“Pedagang kecil itu bekerja dengan perhitungan harian. Kalau harga terlalu rendah, mereka justru takut ambil barang karena bisa tidak kembali modal. Ini yang sedang kami pantau,” lanjutnya.

Ia menilai, apabila situasi seperti ini berlangsung lama, siklus perdagangan bisa berkurang intensitasnya, dan pasar kehilangan penggerak utama di tingkat ritel.

Cabai lokal relatif stabil karena kapasitas produksi tidak terlalu besar. Namun, stabilitas itu sekaligus menunjukkan ketergantungan Kutim pada pasokan luar daerah. Pemerintah memandang situasi ini sebagai peluang untuk memperbaiki tata kelola informasi dan arus pengiriman antardaerah.

“Kami sedang intens berkomunikasi dengan provinsi agar ritme pasokan luar bisa ditata. Tidak bisa dibiarkan masuk dalam jumlah besar tanpa melihat kebutuhan,” ujarnya.

Selain koordinasi distribusi, Disperindag memperkuat pemantauan harian terhadap dinamika harga sebagai dasar langkah korektif. Pemerintah menilai stabilisasi harga bukan hanya soal menahan kenaikan, tetapi juga mencegah penurunan ekstrem.

Baca Juga :  Disdikbud Kutim Tambah Jam Pelajaran Mengaji, Rekrut Guru Khusus dengan Gaji Daerah

“Harga yang terlalu rendah juga tidak sehat. Pasar memerlukan keseimbangan,” pungkas Dony.

(ADV/Diskominfo Kutim/Zi).

Editor: Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *