Scroll untuk baca artikel
Disdikbud Kaltim

Atasi Kekurangan Guru SLB

120
×

Atasi Kekurangan Guru SLB

Sebarkan artikel ini

Disdikbud Kaltim Lakukan Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi

Ket: Ilustrasi.

MEDIAKATA.COM, SAMARINDA – Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kaltim mengalami kekurangan tenaga pengajar karena persyaratan khusus dan kurikulum unik mereka. Hal ini menyebabkan perbedaan dalam kemampuan guru SLB dibandingkan dengan sekolah lainnya.

Pengawas Pendidikan Khusus Disdikbud Kaltim, Sapi’i mengungkapkan, upaya untuk mengatasi kekurangan tenaga pendidik dengan kerja sama perguruan tinggi yang memiliki jurusan pendidikan khusus, seperti kerja sama dengan UNESA yang menyediakan beasiswa bagi mereka yang tertarik mengikuti program tersebut.

“Sudah beberapa angkatan ini kita kerja sama dengan UNESA untuk mencetak guru-guru SLB di Kaltim, dan yang berminat untuk mengikuti program itu akan ditanggung dengan beasiswa Kaltim,” kata Sapi’i.

Namun, masih terdapat kendala karena mayoritas tenaga pengajar SLB berasal dari luar Kaltim. Hal ini disebabkan karena belum adanya perguruan tinggi di Kaltim yang menyediakan jurusan untuk guru SLB.

Oleh karena itu, adanya beasiswa dari Kaltim meningkatkan partisipasi putra daerah, namun demikian, jumlah guru honorer di SLB tetap berasal dari luar daerah karena bergantung pada minat dan kesediaan menghadapi tantangan mengajar anak-anak luar biasa.

“Dengan adanya beasiswa dari Kaltim ini, banyak putra daerah yang ikut, tetapi untuk yang honor di SLB banyak juga putra daerah karena tergantung minat juga, mengingat yang dihadapi adalah anak luar biasa,” lanjutnya.

Di samping persyaratan guru, mata pelajaran di SLB juga berbeda dari sekolah reguler karena disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti tunanetra atau tuna rungu. Ini mengakibatkan pengelompokkan siswa berdasarkan kebutuhan khusus mereka dan kurikulum yang berbeda sesuai dengan kebutuhan tersebut.

“Program pembelajaran khusus itu disesuaikan dengan jenis anak misalkan tunanetra, tunanetra itu salah satunya adalah orientasi dan mobilitas, kemudian untuk anak tuna rungu ada bicara bina persepsi bunyi dan irama, atau bina komunikasi, yang membahas bagaimana bahasa isyarat, mata pelajaran seperti itu hanya ada di SLB,” jelas Sapi’i.

Sementara di dalam lingkungan SLB, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sering kali juga menjalankan peran sebagai pengasuh, terutama di tingkatan rendah seperti TK LB.

“Hal ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan setiap siswa dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” pungkasnya.

[ADV/DISDIKBUD/TSN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *