Proyek P5 Belum Sepenuhnya Diterapkan di Tiap Sekolah

Nurhayati: Bukan Berisi Nilai, Jadi Sifatnya Kualitatif

Ket: Kepala SMA 8 Samarinda, Nurhayati.(Dok)

MEDIAKATA.COM, SAMARINDA – Sekolah-sekolah di Indonesia mulai menerapkan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang merupakan cara baru untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada pelajar.

Berdasarkan penyataan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), program P5 ini berbeda dari cara-cara pendidikan Pancasila sebelumnya dengan melibatkan kegiatan penunjang berbasis proyek.

Namun tampaknya belum semua sekolah menerapkan program yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka ini secara optimal. Di Kaltim sendiri, sudah ada beberapa sekolah yang telah menerapkan program tersebut. Salah satunya SMA 8 Samarinda.

Kepala SMA 8 Samarinda, Nurhayati mengatakan, P5 bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa di sekolah. Ia menjelaskan bahwa, proyek ini memiliki sistem penilaian yang berbeda, tidak menggunakan angka sebagai evaluasi, melainkan rapor yang lebih bersifat kualitatif.

“Raportnya bukan berisi nilai, jadi sifatnya kualitatif,” ungkap Nurhayati, beberapa waktu lalu.

Dalam program ini, peran guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendamping dan fasilitator. Guru mendampingi siswa dalam kegiatan yang berfokus pada pengembangan keterampilan. Mereka menjadi fasilitator yang mendorong siswa untuk melakukan aktivitas tertentu.

“Siswa akan tergabung dalam kelompok untuk mengerjakan proyek spesifik,” tambahnya.

Proyek ini mencakup berbagai kegiatan, seperti pembuatan batik, eco green, eco enzym, dan juga kewirausahaan. Sebagai contoh dalam bidang kewirausahaan, siswa diarahkan untuk berinovasi dalam sektor makanan tradisional karena semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap makanan tersebut.

Setelah proyek ditentukan, sekolah akan memfasilitasi siswa dengan mengundang pembicara dari instansi terkait. Mereka akan berdiskusi dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang proyek yang dipilih.

“Misalnya, pembicara dari Balai POM membahas tentang pembuatan makanan yang sehat dan higienis. Kemudian, tahap selanjutnya akan ada pemateri lain untuk pemahaman yang lebih lanjut. Ini adalah sistem yang bertahap,” jelas Nurhayati.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltim Upayakan Solusi Atasi Kekurangan Guru di SMK

[ADV/DISDIKBUD/TSN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *