Budidaya Jamur Tiram di Tenggarong Seberang, Salah Satu Upaya Peningkatan Kesejahteraan Petani Lokal

Teks Foto : Bupati Kukar Edi Damansyah/mediakata.com

MEDIAKATA.COM, KUKAR Kecamatan Tenggarong Seberang saat ini, tengah memfokuskan diri pada peningkatan kesejahteraan petani lokal, dengan budidaya jamur tiram.

Dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, Kecamatan Tenggarong Seberang terus menunjukkan potensinya dalam bidang pertanian. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dengan memberikan dorongan dan fasilitas bagi para petani. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah pengembangan budidaya jamur tiram yang dipelopori oleh I Made Susana.

Bupati Kukar, Edi Damansyah, dalam kunjungannya ke tempat pembudidayaan jamur tiram milik I Made Susana di Desa Kerta Buana, menyatakan kebanggaannya atas keberhasilan para petani lokal.

“Metode yang dilakukan oleh Pak Made ini telah banyak membuahkan hasil yang maksimal. Dengan keberhasilannya ini, tentu saja kita bangga petani Kukar bisa memberikan inspirasi kepada petani lain untuk berkembang lebih baik lagi,” ujar Bupati Edi, dalam kunjungannya belum lama ini.

I Made Susana, yang telah sukses dalam budidaya jamur tiram selama enam tahun, kini menjadi pusat perhatian dan inspirasi bagi petani lainnya. Dengan teknik budidaya yang efisien, Made berhasil menghasilkan produksi harian hingga 150 kilogram jamur tiram dengan harga jual Rp 30 ribu per kilogram. Keberhasilan ini telah mendorong Pemkab Kukar untuk menetapkan Desa Kerta Buana sebagai pusat pelatihan budidaya jamur tiram.

“Untuk para petani yang ingin belajar budi daya jamur seperti ini, silakan datang ke Desa Kerta Buana. Nanti Pemkab Kukar akan memfasilitasinya. Banggalah menjadi petani,” seru Bupati Edi, mengajak petani lain untuk memanfaatkan fasilitas yang disediakan pemerintah.

I Made Susana membeberkan proses budidaya jamur tiram, ia menyatakan satu siklus budidaya membutuhkan waktu sekitar 120 hari, meliputi pembuatan baglog selama 7 hari, inkubasi 30 hari, dan masa tumbuh jamur selama 80 hari. Setiap baglog dapat dipanen antara 4 hingga 5 kali dalam satu siklus.

Baca Juga :  Guna Kemajuan Daerah, Kecamatan Sebulu Gerakkan 90 Pembangunan Infrastruktur

“Pengalaman dan pengetahuan yang kami bagikan diharapkan dapat mendorong kemandirian masyarakat. Saya berharap dengan adanya kelompok-kelompok tani jamur tiram di Kukar, khususnya di Kecamatan Tenggarong Seberang, kita dapat memiliki komoditas unggulan dengan kapasitas produksi yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal maupun kota-kota sekitar,” ungkap I Made Susana, pada Selasa (18/6/24).

Ke depan, diharapkan pemerintah dapat memotivasi para pemuda untuk terjun dan mengembangkan profesi di bidang pertanian. Jika ditekuni dengan baik, budidaya jamur tiram dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan dan berkelanjutan. Dukungan dari pemerintah, baik berupa fasilitas maupun pelatihan, akan terus diperkuat untuk memastikan petani di Kukar dapat maju dan berkembang lebih baik lagi.

Dengan inisiatif ini, Kecamatan Tenggarong Seberang diharapkan dapat menjadi contoh sukses bagi daerah lain dalam mengembangkan sektor pertanian yang modern dan berkelanjutan. Pemkab Kukar berkomitmen untuk terus mendorong inovasi dan kemandirian petani demi kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

[MII]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *