MEDIAKATA.COM, SANGATTA — Di banyak wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), perempuan dan anak masih menghadapi persoalan struktural: keterbatasan ruang aman, ketidaksetaraan kesempatan, dan risiko kekerasan yang mengintai. Melihat situasi itu, pemerintah daerah menyiapkan tiga program prioritas sepanjang 2025 untuk memperkuat perlindungan kelompok rentan tersebut.
Program itu meliputi pengembangan Kabupaten Layak Anak (KLA), peningkatan kesetaraan gender, dan layanan perlindungan khusus bagi anak korban kekerasan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim, Idham Cholid, mengatakan bahwa ketiga program tersebut dirancang sebagai respon terhadap kebutuhan lapangan.
“Kami melihat ada jurang perlindungan yang harus ditutup. Karena itu program tahun depan kami susun bukan hanya berdasarkan dokumen, tetapi temuan-temuan di lapangan,” ujarnya.
Idham menyampaikan bahwa isu gender di Kutim masih memerlukan pendekatan edukatif. Menurutnya, banyak masyarakat memandang kesetaraan gender secara keliru, seolah-olah menghapus perbedaan antara perempuan dan laki-laki.
“Kesetaraan itu tidak memaksa penyamaan. Yang ingin kita bangun adalah kesempatan yang adil, di mana perempuan tidak dibatasi hanya karena konstruksi sosial,” katanya.
Pada sektor perlindungan anak, DPPPA memperkuat layanan pendampingan, terutama bagi korban kekerasan seksual dan kekerasan rumah tangga. Tim pendamping mendampingi anak mulai dari proses pelaporan hingga penyelesaian hukum.
“Kami ingin anak merasa bahwa mereka tidak sendiri. Seluruh proses harus berlangsung sensitif, tidak boleh membuat mereka semakin takut,” jelasnya.
DPPPA juga menargetkan perbaikan lingkungan sosial anak melalui program KLA. Pemerintah daerah mempersiapkan peningkatan fasilitas ruang ramah anak, pelibatan forum anak di tingkat desa, hingga mekanisme pelaporan cepat untuk kasus kekerasan.
“Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, bukan lingkungan yang menimbulkan ancaman,” kata Idham.
Ia berharap program 2025 menjadi langkah konkret untuk mendorong perubahan budaya, bukan sekadar daftar kegiatan. “Kalau budaya aman bagi perempuan dan anak tumbuh kuat, Kutim akan menjadi daerah yang lebih setara dan manusiawi,” tutupnya. (ADV/Diskominfo Kutim/Zi).












