MEDIAKATA.COM, SAMARINDA – Virus Singapura kian menjadi topik hangat yang pantas untuk diwaspadai masyarakat. Meski virus tersebut belum menunjukkan dirinya di Kalimantan Timur (Kaltim), Dinas Kesehatan (Dinkes) memberikan imbauan, agar tak menganggap remeh kasus tersebut.
Dilansir daei detikhealth, Singapura kini telah mengalami lonjakan infeksi COVID-19 yang cukup siginifikan. Terlebih, kasus tersebut juga dikaitkan dengan strain KP.1 dan KP.2 baru, yang merupakan varian dari COVID-19 ‘FLiRT’.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin, mengatakan varian KP.1 dan KP.2 dari Covid-19 jenis FLiRT memiliki sebuah kesamaan pada varian Delta dan Omicron saat kemunculannya. Yakni, sama-sama mudah menyebar.
“Setelah Omicron sifatnya itu mungkin tidak jauh berbeda dengan KP.1 dan KP.2. Yang berbeda tingkat efeknya. Karena itu ringan saja. Karena namanya juga covid jadi cepat menyebar. Walaupun tidak seperti varian yang pertama tingkat berbahayanya yang bisa mengancam jiwa,” ungkapnya Jaya saat dihubungi via telpon, Rabu (29/5/2024) Sore.
Dalam proses penyebarannya, katanya, kemungkinan besar di Kaltim akan kedatangan virus tersebut dalam waktu dekat. Sebab, Singapura dekat dengan Indonesia.
“Pak menteri juga menyampaikan Singapura itu dekat. Dan mobilitas masyarakat Singapura ke Jakarta, Jakarta juga ke Kalimantan juga cepat, apalagi ada IKN. Jadi mungkin dalam waktu dekat juga akan ada,” jelasnya.
Jaya menegaskan, meski informasi penyebaran Virus Singapura di luar Kaltim telah diterimanya. Namun, pihaknya perlu memastikan hal tersebut berdasarkan uji lab dari mereka yang tertular.
“Kami pun belum rilis apakah sudah masuk atau belum. Tapi kalau memang ada, kan sampelnya mesti diambil untuk diperiksa. Makanya, kami belum bisa memastikan, karena harus diperiksa dulu yang dinyatakan sebagai penderita atau terpapar. Baik yang rawat jalan maupun yang harus dirawat inap,” paparnya.
“Apalagi di kota Balikpapan yang merupakan pintu awal masyarakat luar pun belum bisa menginformasikan. Kan harus ada uji sampel dan lainnya,” tambahnya.
Menurutnya, yang menjadi antisipasi kesehatan masyarakat Kaltim, melakukan vaksin ulang perlu disuntikan. Sebab, ia menduga, sistem kekebalan tubuh usai vaksin 1 dan 2 masih berkerja dalam tubuh.
“Yang harus diantisipasi, pertama yang belum vaksin segera vaksin, yang kedua setelah vaksin, vaksin lagi dengan Booster 1 dan Booster 2. Terutama para Manula atau lansia, karena rata-rata yang punya kekebalan yang kurang itu kan mereka,” imbuhnya.
“Itu sudah diinstruksikan sesuai dengan instruksi yang pertama. Ketika muncul peningkatan kasus masyarakat tidak akan khawatir lagi,” tambahnya lagi.
Ia menyebutkan, ketersediaan vaksin di Kaltim masih tercukupi. Sehingga, ia merekomendasikan untuk mereka yang rentan terkena penyakit segera menerima dosis tambahan vaksin pada tahun 2024, sekitar satu tahun setelah dosis terakhir diterima.
“Kita anjurkan agar segera melakukan vaksinasi. Masih ada kok vaksinnya masih tersedia di seluruh Kabupaten Kota,” pungkasnya.












